Archive

Archive for the ‘Inspiration’ Category

Sebagai pengingat..

March 31, 2009 Leave a comment

"Aku tahu rizki ku tak mungkin diambil orang lain,
karenanya hatiku tenang.
Aku tahu amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain,
maka aku sibukkan diriku untuk beramal.
Aku tahu Allah selalu melihatku,
karenanya aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat.
Aku tahu kematian menantiku,
maka kupersiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabb-ku."

Hasan Al-Bashri

Advertisements

Cinta..

October 16, 2008 1 comment

"Cinta itu sebuah perjuangan, cinta tidak pernah datang dengan cara mudah turun dari langit. Semuanya harus kita perjuangkan, dan seringkali cinta itu mekar setelah kita melewati berbagai macam derita. Derita bukan musuhnya cinta, tetapi derita itu sedang membuat cinta menjadi lebih dewasa.."

-Gde Prama-

..untuk seseorang dan seseorang lainnya yang mungkin tidak pernah mampir ke blog ini, doaku bersama kalian.. berjuanglah!..

Things..

June 3, 2008 4 comments

..that should be considered as achievements (well.. at least for me 😉 )

1) Alhamdulillah that I could break those ± 16 hours 23 minutes. Practice makes perfect rite? Especially when you live in four seasons country.

2) Finally, I got the “picture“..

Categories: Inspiration, Life

a Chance..

January 30, 2008 Leave a comment

 “I must learn to love the fool in me the one who feels too much, talks too much, takes too many chances, wins sometimes and loses often, lacks self-control, loves and hates, hurts and gets hurt, promises and breaks promises, laughs and cries”

Theodore Isaac Rubin

Belilah Ikanmu Sendiri..

November 15, 2007 Leave a comment

*Dapat dari milis*

Seorang perdana menteri yang cakap, Gonsong Yee, gemar sekali makan ikan. Setiap pagi, banyak orang antri di pintu depannya, ingin memberikan hadiah berupa ikan-ikan yang mahal dan lezat kepadanya. Melihat hal ini, sambil merasa salah tingkah, Yee dengan tenang berterima kasih kepada mereka atas kebaikannya tetapi dengan tegas menolak untuk menerima  satu pun dari ikan-ikan itu. Kurangnya rasa sopan-santun sosial ini sangat mengejutkan dan menjengkelkan adiknya, yang tinggal bersamanya. Suatu malam sesudah makan, dia dengan rasa ingin tahu bertanya tentang alasan di balik semua itu kepada kakaknya.

“Sangat sederhana,” ungkap si perdana menteri. “untuk menghindari masalah yang mungkin timbul, seorang pria yang bijaksana sebaiknya tidak pernah membiarkan kesenangannya atau hobinya diketahui oleh umum. Aku memang sangat ceroboh dalam hal ini, karena kegemaranku makan ikan diketahui oleh umum. Mengetahui kesukaanku, para pemberi bingkisan itu akan berusaha memuaskanku. Jika aku menerina pemberian mereka, aku berhutang kepada mereka. Ketika membuat keputusan, secara sengaja maupun tidak sengaja aku akan memikirkan keinginan mereka. Aku ingin membelokkan hukum untuk membalas kebaikan mereka. Jika ini berlanjut, aku memiliki resiko tertangkap dan kehilangan kedudukan serta reputasiku. Lalu siapa yang akan peduli untuk memberi hadiah kepada seorang tawanan yang tidak dihargai dan tidak berkuasa?, Oleh karena itu, aku dengan gigih harus menolak kedermawanan mereka, aku bebas mengatur diriku sendiri. Dengan membuat keputusan yang tepat dan tidak berat sebelah, aku dapat mempertahankan posisiku jauh lebih lama dan tetap akan membeli ikanku sendiri.” Adiknya segera meminta maaf atas pemikirannya yang sempit.

Penghargaan itu di raih, bukan diberikan. Demikian juga kesuksesan. Tidak ada makanan yang gratis di dunia ini. Seseorang harus selalu bergantung kepada dirinya sendiri, bukan orang lain, karena orang lain mempunyai kepentingan  mereka masing-masing.

Source: Wisdom’s Way  “101 Kisah Kebijakan Cina” Oleh : Walton C. Lee

Pembicara yang baik adalah pendengar yang baik

November 11, 2007 1 comment

* * * * *

“Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut, supaya kita mendengar dua kali lebih banyak daripada berbicara.”

“Pembicara yang baik adalah pendengar yang terbaik.”

Mendengar, ternyata bukan hanya “masuk kiri keluar kanan” atau sebaliknya. Mendengar ternyata benar-benar mencoba memahami apa yang dikatakan orang lain. Mendengar adalah sebuah proses serius yang tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan kebiasaan, refleks atau insting. Mendengar adalah upaya untuk menghubungkan titik-titik yang kadangkala menyatakan pesan-pesan yang tersembunyi.

Stephen Covey si pengarang “Seven Habits” itu, mengungkapkan “most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply”. Mendengar dengan lebih baik secara nyata akan membuka kemungkinan munculnya berbagai peluang baru.

Ada lima kendala dalam proses mendengar. Semua kendala ini akan menjadikan proses mendengar menjadi tidak efektif. Kelima kendala itu adalah:

– Preoccupation
– Preconceived ideas
– Talking too much
– Thinking of responses, dan
– A lack of interest.

Proses mendengar akan menjadi lebih efektif jika kita berhasil mengatasi kendala-kendala di atas. Kendala-kendala itu bisa muncul sendiri-sendiri, gabungan atau bersama-sama.

PREOCCUPATION

Preoccupation atau preokupasi, adalah situasi di mana seseorang sedang “sibuk” dengan sebuah urusan lain yang tidak secara langsung berhubungan dengan topik pembicaraan. Sebagai contoh, kondisi ini bisa dialami oleh seorang istri yang ditanya suaminya tentang urusan sekolah anak sementara sang istri itu sedang memelototi film India kesukaannya. Atau, kondisi ini juga bisa dialami oleh seorang rekan kerja yang tengah sibuk mengetik proposal penjualan kemudian ditanya tentang di mana letak ordner penjualan bulan lalu.

Kendala ini berakar pada kekhawatiran alamiah kita berkaitan dengan sesuatu yang harus dikerjakan atau harus diselesaikan. Pada dasarnya, ketidakmampuan kita untuk bersikap rileks dan tetap berkonsentrasi pada saat yang sama akan memunculkan hambatan untuk berfokus pada realitas “di sini” dan “saat ini”. Apa yang terjadi dalam situasi ini barulah sebuah proses “mendengar” dan sama sekali belum “menyimak”.

Preokupasi adalah kendala terbesar dalam proses mendengar. Beberapa studi menunjukkan bahwa 40% dari waktu kita digunakan untuk memikirkan masa lalu, 40% untuk memimpikan berbagai kejadian di masa depan dan hanya 20% untuk berfokus pada situasi sekarang.

Preokupasi adalah juga sebuah fenomena pelarian sementara dari realitas atau kenyataan.

Dalam situasi yang menekan, kita akan cenderung tenggelam dalam mengingat-ingat masa lalu yang lebih indah dan nikmat.

Kendala ini hanya bisa diperbaiki apabila kita memahami fakta tentang kecenderungan setiap orang untuk terpeleset ke dalam keadaan yang setengah melantur.

Jika anda mengalaminya, kendala ini bisa diatasi dengan beberapa teknik berikut:

  1. Lupakan. Bila sesuatu itu tidak terjadi sekarang dan di sini, dan kita tidak bisa
    menyentuh,merasakan atau memperbaikinya – lupakan saja. Itu sudah terjadi
    dan tidak bisa kembali lagi.
    Jika itu memang buruk, petik saja hikmahnya dan perbaiki di masa depan.
    Jangan buang waktu berjam-jam hanya untuk menebak-nebak. Jika Anda tetap
    memaksa, maka hal itu hanya akan meningkatkan gejala preokupasi dan
    menambah frustrasi.
  2. Bangun rutinitas. Ketidakpastian di masa depan akan menciptakan
    kekhawatiran. Ciptakan rutinitas untuk mengurangi beban selalu mengingat-
    ingat apa yang harus dikerjakan dan kapan mengerjakannya.
    Cobalah implementasikan hal ini secara harian.
  3. Don’t sweat the small stuff (Anda mungkin pernah membaca sebuah buku
    dengan judul ini).
    Jika mobil Anda sudah tidak pernah dicuci sejak dua bulan yang lalu, ya sudah
    biarkan saja.
    Berfokuslah pada hal-hal lain yang jauh lebih penting.
  4. Delegasikan. Usahakan orang lain ikut ambil bagian dalam menyelesaikan tugas
    Anda. Ini akan meringankan beban mental Anda.
  5. Buat catatan. Mengingat segala sesuatu sampai ke hal-hal yang kecil adalah
    beban berat.
    Sediakan selalu buku kecil atau post-it di dekat Anda untuk keperluan mencatat.
  6. Ambil nafas panjang, rileks dan tersenyumlah. Berbagai hal jarang sekali lebih
    serius daripada apa yang terlihat. Berbagai masalah biasanya lebih berat di
    kepala daripada dipundak. Dengan hal seremeh ini, kemampuan Anda dalam
    mendengar akan seratus kali lebih efektif.

PRECONCEIVED IDEAS

Gejala inilah yang melahirkan istilah “pikiran sempit atau cetek”, “keras kepala” atau “masuk kiri keluar kanan” atau malah “otak udang” dan “otak di dengkul”. Preconceived ideas adalah berbagai ide dan gagasan atau pemahaman yang sudah terlanjur mendominasi pemikiran seseorang. Kendala ini mengakibatkan munculnya penolakan terhadap berbagai input baru ke dalam pemikiran. Kendala ini juga berhubungan dengan ego, rasa tidak nyaman dan kemalasan.

Gejala yang bisa dilihat dari keberadaan kendala ini adalah kecenderungan untuk menggeneralisir dan bereaksi tanpa fakta-fakta yang lengkap. Jelas, hal ini menghambat efektifitas proses mendengar.

Apa yang terjadi, adalah mendengar akan tetapi tidak menyerap informasi yang dibutuhkan dan bereaksi dengan tepat. Jika Anda dihinggapi kendala ini, Anda cenderung tidak suka ditantang dan tidak suka mengubah sikap. Rasa tidak nyaman yang ada pada diri Anda akan menghambat setiap input yang akan mempengaruhi atau merubah rasa nyaman Anda. Anda akan cenderung tidak bisa diakses dan tidak sabaran. Teknik mengatasinya adalah sebagai berikut:

  1. Berhentilah mengkhawatirkan apa yang dipikirkan orang tentang Anda dan
    mulailah mengkhawatirkan apa yang dipikirkan orang
    .
  2. Sediakan waktu dan bertanyalah. Lihatlah proses menerima input sebagai
    suatu proses belajar yang menyenangkan. Berhentilah memuja status quo.
    Berhenti mendengar berarti berhenti belajar.
  3. Perlakukan tantangan dan komentar orang lain sebagai penghargaan. Tidak
    perlu takut salah.
    Jika orang tidak menganggap Anda penting, mereka tidak akan menantang atau
    berkomentar.
  4. Ingatlah bahwa aturan bisa berubah. Sekalipun Anda sudah pernah
    menghadapinya, tidak berarti Anda masih bermain di arena yang sama. Apa
    yang tidak Anda ketahui bisa melukai Anda. Segala sesuatu pasti berubah.
  5. Berjalanlah agak jauh dengan sepatu orang lain . Belajarlah untuk sensitif.

TALKING TOO MUCH

The more you talks, the less you listen. The more you talks, the less others will listen.

Seseorang yang terlalu banyak berbicara cenderung dilatarbelakangi oleh rasa bersalah, takut, khawatir, tidak nyaman atau sifat egois. Orang yang talkoholic merasa bahwa mereka harus bicara, wajib bicara, hanya untuk mendengar dirinya sendiri berbicara.

Efek samping dari berbicara terlalu banyak adalah hilangnya dialog yang penuh arti karena pihak lain yang log out. Orang lain justru akan mengabaikannya. Jika Anda merasa terlalu banyak berbicara, teknik mengatasinya adalah sebagai berikut:

  1. Pikirkan dahulu sebelum berbicara. Jika tidak, bicara Anda bisa jadi malah
    membingungkan.
    Siapkan kerangka dari poin-poin yang hendak Anda sampaikan. Hindari
    percampuran isu.
  2. Evaluasi signifikansi dari pernyataan Anda. Jika waktu Anda sempit, jangan
    ungkapkan sesuatu dengan berputar-putar.
  3. Biarkan orang lain menguasai forum terlebih dahulu. Anda mendengar, Anda
    belajar
    .
    Dengan mendengarkan orang lain terlebih dahulu, Anda mungkin akan
    menemukan bahwa pemikiran Anda tidak relevan, tidak cocok atau bahkan
    memalukan. Seorang pegawai yang akan Anda pecat, jika diberi kesempatan
    untuk berbicara, mungkin justru akan mengajukan pengunduran diri.
    Ongkosnya, bisa jadi jauh lebih murah.
  4. Kendalikan mulut Anda. Mulut Anda harimau Anda. Segelas minuman di dekat
    Anda bukan hanya untuk menghilangkan rasa haus. Gelas itu bisa menunda
    bicara Anda.
  5. Bertanyalah. Pertanyaan yang benar dan relevan akan mengatakan pada orang
    lain bahwa Anda menyimak.
  6. Biarkan orang lain jadi bintang panggung. Buatlah orang lain menikmati lampu
    sorot.
    Biasakan sharing dengan orang banyak. Lebih mudah mendengarkan dari
    banyak orang dari pada hanya satu mulut yang harus didengarkan.
  7. Makin banyak bicara akan makin banyak mengabaikan. Makin banyak bicara,
    makin besar kemungkinan salah omong. Jika ragu, lebih baik diam.
  8. Batasi waktu. Jika Anda muncul kemudian orang lain bersembunyi atau
    menghindar, itu mungkin tanda bahwa Anda terlalu banyak berbicara dan
    kurang mendengarkan. Tunjukkan bahwa Anda punya prioritas lain. Ciri
    komunikasi yang sehat adalah seimbangnya proses memberi dan menerima
    informasi. Pembicara harus membuat orang lain mendengar dan pendengar
    harus membuat orang lain berbicara.

THINKING OF RESPONSES

Kendala ini sering disebut dengan “bigger fish syndrome“, yaitu kesulitan untuk menjaga kesinambungan pernyataan. Untuk melanjutkan pernyataan, seseorang biasanya masih dipengaruhi atau diokupasi oleh pernyataan lawan bicara sebelumnya. Bahaya dari kendala ini adalah dampaknya terhadap ego dan hubungan baik.

Anda harus mengetahui apakah pernyataan Anda memperkuat atau malah melemahkan pernyataan Anda yang lain.

Kendala ini berhubungannya dengan kendala “terlalu banyak berbicara”. Maka, Anda harus mengukur tingkat kepentingan dan relevansi dari setiap pernyataan Anda. Dalam banyak hal, sindrom “the bigger fish story” akan menciptakan perlombaan bicara yang menyimpang dari maksud awalnya. Lebih jauh lagi, situasi itu akan berkembang menjadi
percakapan yang “tulalit”.

A LACK OF INTEREST

Kendala ini adalah kendala yang paling susah dijinakkan. Manusia cenderung mengaitkan sesuatu hanya dengan hal-hal yang dimengerti, dengan orang atau dengan sesuatu yang bisa memberi manfaat secara pribadi. Jika sesuatu tidak menarik, Anda cenderung akan mengabaikannya. Padahal, bisa jadi yang tidak menarik itu dapat merubah nasib Anda.
Adalah lebih mudah untuk mendengarkan tentang kenaikan gaji atau kenaikan penjualan. Mengapa? Sebab hal-hal itu memang lebih mudah dimengerti dan mempunyai akibat langsung yang bisa diukur.

Kendala ini hanya muncul apabila Anda beranggapan bahwa pesan yang disampaikan, bahkan pengantar pesan itu sendiri, adalah tidak penting atau tidak relevan.

Jika Anda tidak memiliki ketertarikan, maka Anda tidak akan mendengarkan. Dan satu hal lagi, itu pasti kelihatan. Sinyal itu akan menunjukkan bahwa Anda kurang respek terhadap pernyataan orang lain.

Jika Anda belum bisa berbicara sistematis, atau jika Anda sering mengalami kekakuan dalam pembicaraan, atau jika Anda sering mengalami keheningan dalam pembicaraan karena Anda tidak tahu apa lagi yang harus dibicarakan, atau jika Anda sering berbicara hal-hal yang sebenarnya di luar konteks, teknik mengatasinya adalah sebagai berikut:

  1. Carilah kesamaan dan persamaan. Setiap orang pasti memilikinya.
    Hampir semua orang pasti punya anak, pernah bersekolah, punya hobi, punya
    keluarga atau mungkin suka berolahraga. Bicaralah tentang semua itu. Hasilnya,
    Anda akan semakin akrab.
  2. Bertanyalah dalam rangka belajar. Anda bisa mendalami pemahaman orang lain
    dengan bertanya. Sekaligus, ini adalah salah satu cara untuk menemukan
    kesamaan dan persamaan.
  3. Hargai orang lain sebagai dirinya, jangan pekerjaannya. Artinya,
    Anda juga perlu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi orang lain.
    Mungkin, Anda adalah seorang eksekutif puncak. Akan tetapi jika ada
    kondangan, mungkin Anda harus tetap memakai batik atau baju koko.

Mendengar ternyata tidak mudah.
Tidak mendengar, Anda tidak belajar.
Tidak mendengar dengan lebih baik, Anda tidak makin pintar.

**********************************************************************

-terima kasih untuk sahabatku, yang tak pernah berhenti mengajarkanku untuk selalu menjadi pendengar yang baik

Categories: General, Inspiration

Belajar dari Semut

November 3, 2007 Leave a comment

Oleh : Nasher Akbar

Sesungguhnya di dalam kehidupan semut terdapat pelajaran yang sangat berarti bagi umat manusia. Yaitu pelajaran tentang kesabaran, keteguhan, ketekunan, dan kesinambungan dalam usaha untuk mencapai tujuan. Ungkapan ini tidaklah berlebihan, karena semut senantiasa mengulangi usahanya berkali-kali hingga tercapai tujuannya.
Ia bergelantungan di atas pohon, lantas jatuh lalu bangkit kembali dan berusaha untuk naik lagi, dan jatuh kembali. Begitu seterusnya hingga berhasil mencapai apa yang ia inginkan.

Jika jalan untuk mencapai tujuan ditutup ataupun dirintangi, ia akan mengalihkan langkahnya ke kanan atau ke kiri. Kadang ia menjauh dari jalannya yang pertama karena terdapat rintangan. Namun, ia tetap memfokuskan tujuannya seperti semula hingga tercapai. Jika perjalanannya terhalang oleh genangan air yang tak dapat diseberangi, dia membuat formasi jembatan di atas air bersama teman-temannya. Setiap semut berusaha untuk mengaitkan diri dengan lainnya di atas lintasan air seperti jembatan.

Mahasuci Allah yang telah menciptakan semut sedemikian rupa. Begitu besar hikmah yang dapat diambil dari hewan kecil ini, hingga Allah SWT mengabadikannya menjadi nama sebuah surat dalam Alquran, yaitu surat An-Naml (semut). Sifat semut di atas adalah sifat seorang Muslim sejati.

Seorang Muslim akan senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuannya. Ia akan selalu sabar, teguh, dan tekun tanpa mengenal kata lelah. Kegagalan tidaklah akan menyurutkan semangat seorang Muslim untuk tetap menggapai apa yang dituju, karena ia yakin bahwa keberhasilan dan kegagalan seseorang berada di tangan Allah SWT. Ia hanya wajib untuk berusaha dan berusaha lalu menyerahkan hasilnya kepada Sang Khaliq. Dalam Alquran disebutkan tentang perintah Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya untuk mencari berita tentang nabi Yusuf. ”Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf (12): 87).

Dan dalam sebuah hadis yang diriwatkan oleh Imam Thabrani, Rasulullah SAW bersabda, ”Sesunguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat, terarah, jelas, dan tuntas).”

Rasulullah SAW pun memberikan suatu keteladan yang luar biasa dalam hal keteguhan untuk mencapai tujuan. Sejarah telah menerangkan bagaimana ketegaran dan keteguhan Nabi Muhammad SAW ketika menyeru Islam kepada kaum kafir Quraisy. Berbagai godaan, hinaan, ancaman yang dihadapkan kepada beliau tidaklah mampu menyirnakan keteguhan dalam berdakwah.

Bahkan, Muhammad SAW mengucapkan, ”Seandainya matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti untuk berdakwah.”
 
sumber: http://republika.co.id