Archive

Archive for the ‘Story’ Category

Analisis (ala kadarnya) tentang cinta

March 23, 2009 3 comments

Obrolan penting-ga-penting after dinner….
(musik latar: Omens of Love oleh T-Square)

*Demi menjaga identitas pelaku, nama disamarkan (Analis Cinta/AC; yang Lagi Jatuh Cinta/LJC)

AC: wah, neng *beep1* notesnya cinta²an terus kayanya ya
LJC: emang, dah 2 bln terakhir kyknya
AC: wah makanya ati atiiiii
AC: kalo lagi jatoh cinta kudu napak tanah
LJC: emang ??
AC: iya
AC: karena cinta itu ada 2 macam
AC: cinta yg bisa bikin kamu bahagia
AC: sama cinta yang bikin kamu menderita
AC: sudah cukup lah aku mendengar cinta itu buta.. (soalnya ini kalimat sakti yg byk orang masih bisa ngeles)
AC: gimana neng LJC ??
LJC: cinta itu buta but it can see in the dark.. kkk *btw ini counter maha saktinya neng LJC
AC: nah ntuuu, salah satu counter yg paling sering aku dengar akhir² ini
LJC: hahahaha
LJC: sebetulnya menurutku bkn buta sih
LJC: yg jelek tetep dinilai jelek
LJC: cm tingkat toleransi terhadap sesuatu yg jelek itu jd amat sangat tinggi
LJC & AC: (sama² ketawa ngakak)
AC: yang tadi counter tipe ke-2
AC: cinta yg gak pake rasio
LJC: itu kyk apa ya?
AC: ya yg kamu bilang tadi
AC: semuanya gak pake rasio
LJC: (baru ngeh, trus ngakak lagi) *si LJC ini emang suka telat ketawanya
AC: bukan gimana2, aku jadi suka ikut sedih aja
LJC: iya, kan ngelesnya “ya maklum lah, namanya cinta” hahahaha
AC: nah itu, counter tipe ke-3
LJC: e buset, ada brp tipe?
AC: bisa byk
LJC: kok kamu tau sih?
AC: orang kan bisa berbagai macam cara penyampaiannya
AC: tapi intinya denial semua, ngga mau dibilang cinta itu buta
LJC: ada lg
AC: gimana
LJC: cinta itu datangnya dr hati, bkn dr logika
LJC: hahahaha
LJC: klo ini versi si *beep2* kkk
AC: ini counter tipe ke-4, kaya lagu sukanya kutip²
AC & LJC: (ngakak lagi)
LJC: ada lg
LJC: cinta itu dirasakan, jgn dianalisa
AC: ini cintanya orang yg gak mau susah mikir
AC: pake perasaaaaaaaaaaaaan mlulu
LJC: aku dunk
AC: iya (sambil ketawa miris…duh!)
AC: udah jatoh berkali2 teteeeeeep ajah
LJC: (ketawa lagi, gak tahu kali ini ngetawain siapa) *mgkn ngetawain diri sendiri
AC: Ya Allah, semoga dirimu berubah ya neng LJC
AC: ½ ½ lah
LJC: amiiin….tp susah kyknya.. kkkk
AC: dasarrr
LJC: lha, gmn mau berubah
LJC: skr dpt cowok, doyan ngegombal
LJC: wakakakakaak
LJC: yg terakhir ini counter tipe brp bu? kkk
AC: yg mana
LJC: “klo cinta gak mau disalahin” kkk
AC: bisa masuk tipe ke-3 tuh
AC: namanya juga cinta
AC: halaaaaaaaaaaaahhhh

PS:

  1. Setelah dianalisa lebih jauh, kayanya neng LJC ini lagi hepi berat.. cekikikannya (“kkk”) banyak bener 😆
  2. Jika ada kesamaan pelaku, cerita, dan tempat, nah itu mungkin cuma kebetulan ajah 🙂

Sang Penyelamat Bayi..

January 13, 2008 Leave a comment

Dikisahkan di suatu desa Migimpigi, tinggallah seorang gadis bernama Sokkaga. Ia cantik, ramah, dan sangat menyukai anak-anak balita. Pembawaannya yang periang dan ekspresif membuatnya disukai oleh banyak orang. Walaupun terkadang sedikit manja, tapi di luar dugaan ternyata dia sangat pemberani.

Pada suatu hari, Sokkaga pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan untuk memasak siang hari. Dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan segerombolan penculik yang kemudian menyekapnya di suatu rumah. Ternyata ia tak sendirian. Apa yang Sokkaga lihat di rumah itu membuatnya kaget. Para penculik itu adalah komplotan penculik bayi. Ya, banyak bayi-bayi di sana. Beberapa gadis sebaya Sokkaga pun ada disana. Terikat, tak berkutik sedikitpun. Malam harinya, salah satu penculik meminta Sokkaga untuk menyiapkan makan malam. Entah apa yang ada di benak para penculik ini sehingga mereka memilih Sokkaga sebagai koki mereka malam ini. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Sokkaga pun melakukan apa yang penculik minta. Tapi di balik itu semua, Sokkaga ternyata menyimpan suatu rencana. Ya, rencana pelarian diri. Ia dan semua korban penculikan yang ada di rumah itu.

Berbekal pengetahuan dalam meracik bahan-bahan kimia yang dipelajari di sekolahnya, Sokkaga menyiapkan sejenis cairan obat tidur yang ia campur dengan makanan olahannya. Ia berdoa agar rencananya berhasil. Dan benar, tak lama ketika para penculik menyantap hidangan malam itu, mereka tertidur dengan lelapnya!! Ah, betapa gembiranya Sokkaga, tak membuang banyak waktu, ia segera mengumpulkan para korban untuk melarikan diri. Ya, mereka berhasil keluar dari rumah itu dan berlari sejauh mungkin. Tapi hambatan pun datang. Betapa repotnya membawa bayi-bayi itu dan tak memungkinkan untuk bergerak lebih jauh lagi. Ia dan yang lainnya memutuskan untuk bersembunyi di salah satu rumah penduduk yang mereka temui. Syukurlah, mereka bertemu dengan satu keluarga yang bersedia memberi tempat perlindungan. Kemudian salah satu dari mereka segera menelepon polisi untuk meringkus para penculik itu, dan memberikan alamat rumah penculikan. Dan tak lama kemudian polisi datang dan menangkap mereka.

Ada beberapa kendaraan dalam iring-iringan perjalanan menuju ke kantor polisi. Ketika hampir sampai, mereka dihadang oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Sokkaga yang berada di kendaraan terdepan, menyadari bahwa mereka semua dalam bahaya. Orang-orang ini ternyata adalah bagian dari mafia para penculik bayi.. Tak lama kemudian mereka semua berada dalam situasi yang tak terkendali. Adu tembak, dan perkelahian. Tapi akhirnya polisi dan rombongan meraih posisi kemenangan!! Hanya saja, ada salah seorang penculik yang berusaha untuk melarikan diri. Sokkaga yang mengetahui hal ini langsung meraih pistol salah satu penculik yang terlempar ke tanah, dan berlari mengejar penculik itu. Sokkaga berhasil mengejarnya dan menembakkan tembakan peringatan ke udara, tak lupa meneriakkan kata-kata pada penculik itu agar menyerahkan diri. Seketika itu pula penculik berhenti berlari dan dia terlihat sangat ketakutan, dan akhirnya menyerah. Akhirnya, komplotan penculik pun berhasil diringkus dan dijebloskan ke dalam penjara.

Setibanya di desa Migimpigi, rombongan korban penculikan disambut dengan isak tangis bahagia. Rupanya, selama ini peristiwa penculikan disembunyikan oleh para keluarga yang menjadi korban. Mereka takut akan ancaman para penculik yang akan melukai anak-anak mereka. Selama ini mereka membayar jaminan tanpa mengetahui keberadaan anak-anak mereka. Berkat usaha Sokkaga dan bantuan polisi, mereka pun kembali bertemu dengan keluarga mereka kembali.

Itulah kisah Sokkaga, seorang gadis biasa yang ternyata memiliki keberanian yang luar biasa dalam menghadapi komplotan penculik yang ditakuti seantero desa.

*Diilhami dari penuturan khayalan seseorang yang tidak bersedia disebutkan namanya. Yah, karena ini cuma fiksi, jadi mbacanya santai aja yah! 😀 kkk*

Categories: Story Tags: , , ,

Malam Seribu Bulan

May 9, 2007 2 comments

…”Lelaki seringkali bermimpi mendapatkan cinta perempuan semudah ia manangkap merpati. Lelaki bisa jatuh sekali pandang, tapi perempuan butuh dua kali musim gugur untuk mencari tahu apa sejatinya kehendak nurani.”…

Taken from: Sastra Koran Indonesia

Malam Seribu Bulan
Post: 04/30/2007 Disimak: 224 kali
Cerpen: Leo Kelana
Sumber: Batam Pos, Edisi 04/29/2007
(untuk perempuan bertudung senja dengan senyum berwarna jingga)


Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata.**“Perempuan itu seperti melati,” kata ibuku suatu ketika. Aku diam saja. Kupandangi melati yang bermandi cahaya mentari pagi. Di depan rumahku, ia tumbuh begitu sempurna. Ah?benarkah perempuan itu seperti melati. Bisikku dalam hati.

*****

Dan ketika saatnya, aku baru mengerti. Perempuan itu seperti melati. Lembut. Bening. Aku seperti selalu diminta untuk diam bahkan terdiam ketika bening itu kutatap. Ingin kureguk. Ingin kurengkuh. Tapi beburungan mengabarkan padaku, biarkan ia tumbuh di taman itu. Jangan kau dekati. Jangan kau sentuh. Jangan kau tergesa tuk meraihnya. Biarkan ia luruh ketika tiba saatnya. Kau hanya perlu menyiraminya.

Aku terpekur diam. Dengan apakah aku menyirami melati itu? Melati yang tidak tumbuh di taman depan rumahku. Melati yang tidak bermandi cahaya mentari pagi. Melati semerbak mewangi yang tak terlihat kasat mata. Melati yang tumbuh di dalam hatiku. Melati yang tak pernah membiarkan hatiku sunyi dari mendoakannya.

“Aku melihat lautan teduh di matamu,” kataku ketika pertama kali bertemu dengannya. Di sebuah bis malam dalam perjalananku menyusuri sunyi. Angin hanya bisa berbisik ketika kulihat perempuan itu tersenyum. Senyum yang sangat kusuka. Senyum berwarna jingga.

“Sepertinya kabut telah menyelimuti batinku. Aku sama sekali tak mengerti kata-katamu. Bahkan telingaku seakan tak mendengar apa-apa.” Jawabnya berpuisi. Sepertinya aku sedang berhadapan dengan Dewi Venus.

“Aku tak akan pernah bosan mengulangi kata-kata itu. Aku akan berteriak sejuta kali sampai tiba saatnya telingamu terbuka, juga kabut yang menyelimuti batinmu tersingkap. Aku tak akan pernah bosan!”

Perempuan itu begitu sempurna. Pertemuan kali itu pakaian putih bening membalut badannya. Sebening itukah hatimu wahai perempuan salju? Hatiku diam-diam bertanya pada rembulan. Rembulan memandangku iba.

“Mengapa kau menatapku seperti itu? Aku melihat beban seberat bumi menggelantung di raut wajahmu. Maukah kau mengabarkan padaku tentang keresahan jiwamu?”

“Aku takut kau berlaku tergesa pada bidadari itu. Aku hanya ingin mengingatkan padamu, bersabarlah menghadapinya.” Rembulan menjawab, menyampaikan suara dawai biola kehidupan.

“Siramilah melati itu dalam setiap detak jantungmu,” lanjutnya.

*****

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa.**

Bumi tiba-tiba terdiam. Bisu. Kaku terpaku menatap gelap. Rembulan lenyap di telan pekat. Mengapa ifrit datang bersijingkat dalam jiwaku lalu membisikkan sabda malapetaka? Aku tak mengerti. Mengapa jibril tak membawakan secawan minuman surgawi agar aku tak terbakar rayuan syaitan? Barangkali takdir memang menggariskan untuk tak boleh menatap melati sementara waktu.

“Aku telah berbuat tolol. Aku tak sadar, tiba-tiba saja aku ingin merengkuh melati itu. Aku ingin mencium semerbak wanginya. Aku ingin memetiknya.” Desahku pada rerumputan. Rerumputan di taman-taman itu ternyata sesenggukan. Rinai air mata beranak sungai mengalir deras pada wajahnya yang tirus.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Melati itu kini meranggas. Melati itu terkulai karena tanganmu yang ceroboh. Mengapa kau berbuat seperti itu. Mengapa kau tak mendengarkan sayup-sayup kebijaksanaan yang ditiupkan kupu-kupu setiap pagi? Dan sekarang kau lihat air mata membanjiri kerajaan langit dan bumi.

Melati itu telah kau buat menangis. Dan dunia pun kini berduka.” Suara rerumputan di antara isak tangisnya.

“Lelaki seringkali bermimpi mendapatkan cinta perempuan semudah ia manangkap merpati. Lelaki bisa jatuh sekali pandang, tapi perempuan butuh dua kali musim gugur untuk mencari tahu apa sejatinya kehendak nurani.”

Aku terbuang pada keterpurukan. Aku telah membuat melati itu terluka. Aku tak tahu kemana harus membawa jiwa yang nelangsa. Nafasku terengah-engah membawa lari perasaanku yang linglung.

*****

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis.**

“Ibu, aku datang padamu sebagai seorang lelaki. Tolong katakan padaku apakah yang kau maksudkan, perempuan itu seperti melati?”

“Anakku, apakah yang terjadi denganmu? Mengapa di matamu terjadi badai dan hujan lebat? Katakan padaku apa yang telah terjadi sehingga kau berlari membawa pertanyaan aneh”.

“Aku mengingat kata-katamu yang dulu. Perempuan itu seperti melati. Aku mengerti perempuan itu memang seperti melati. Indah. Wangi. Lembut. Lalu beburungan dan sekawanan sahabatku yang lain mengatakan padaku untuk menyiraminya. Tapi aku ceroboh. Tergesa-gesa ingin memetiknya.”

“Oh…mengapa kau anakku? Tanganmu masih kaku dan keras. Tanganmu harus kau buat lentur bergerak. Menghiasinya dengan tarian kebijaksanaan. Setelah itulah kau bisa memetik melati itu.”

“Adakah selain itu perihal melati, Bunda?”

“Aku ingin tahu bagaimana kau menyirami melati itu. Melati yang tumbuh di taman hati akan layu kalau kau sirami dengan kasar.”

“Ajarkan aku bagaimana menyirami melati itu, Bunda.”

“Mengapa kau tak belajar dari alam bagaimana menyirami melati.”

“Aku ingin belajar dari seorang perempuan. Dan perempuan yang paling berhak menerangkan padaku adalah engkau, Bunda.”

“Perempuan itu harus kau sirami dengan lemah-lembut. Lihatlah arakan-arakan awan putih yang membawa air hujan. Ia berjalan perlahan. Ia tak pernah tergesa. Seperti itulah kau menghadapi perempuan.”

“Tapi sekali lagi anakku. Tuhan sebenarnya ingin kau lebih memahami bahwa hidup itu sangat rumit untuk dijalani. Kau sedang ditempa untuk tidak menjadi orang yang kerdil. Kau tak perlu risau dengan setangkai melati yang terlanjur kau kecewakan. Mintalah kepada Tuhan semua yang kau inginkan. Dia Maha Pemurah. Tapi sebenarnya cinta Tuhan-lah yang sejati.”

*****

Magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun jauh di sana.**

Tuhan meraih tanganku yang lemah terkulai karena setangkai melati. Dia kemudian menuntunku menuju mihrab-Nya yang agung. Seorang penjaga surga membawakan secawan minuman dari al-Kautsar. Dingin. Tenang mengalir di lorong tenggorokan hidupku. Apakah yang Kau anugerahkan padaku, wahai Sang Maha Pecinta?

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya.**

Putih menyelimuti seluruh badanku. Aku berselonjor di teras mesjid. Tengah malam yang menggigil dingin, segerombolan malaikat datang menjemputku.

“Seni rupa doamu telah sampai di Arsy yang agung. Semoga Tuhan menganugerahkan bidadari surga yang akan menuntunmu menuju cinta hakiki. Hanya cinta Tuhan-lah yang hakiki”.

Semburat fajar tersenyum di ufuk timur. Malam seribu bulan telah berlalu. Malaikat-malaikat yang turun ke bumi untuk menjemput doa, kini telah kembali ke langit. Aku masih terus menyirami melatiku di sela-sela adzan subuh yang mengalun syahdu. Kusirami melatiku dengan lemah-lembut. Dengan untaian doaku.

Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak kan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.***

Kairo, 15 Ramadhan 05:11

Faith the dog

May 9, 2007 Leave a comment

* Kisahnya Faith ini aku intip dari Kompas Cyber Media Community.. menyentuh.. semoga ada yang bisa kita jadikan pelajaran *

Faith the dog

Anjing bernama Faith
YB – California


Di Majalah Guideposts bulan Mei 2007 ada cerita mengenai anjing yang hanya punya dua kaki belakang.

Anjing ini dinamai Faith oleh pemiliknya karena selain hanya punya dua kaki belakang, pita suara serta tenggorokannya rusak jadi tidak dapat menyalak, jadi tidak ada harapan untuk hidup.

Dokter hewan menyarankan untuk disuntik supaya mati (put to sleep) karena biar dia bisa berjalan dengan menyeret badannya, lama-lama dadanya akan berlubang dan mati.

Pemiliknya tidak mau menyerah, anjingnya dia latih agar dapat melompat seperti kelinci atau kangguru.
Mula-mula jatuh tersungkur melulu. Suatu hari ketika main di salju dengan anak-anak si pemilik, Faith ini
dapat menyalak dan melompat seperti kelinci.

Lebih ajaib lagi ketika suatu hari ada anjing lain merebut tulang yang digigit Faith, Faith mengejarnya
dengan cara berlari seperti manusia, kakinya maju satu persatu, bukan melompat dua-duanya.

Sejak itu Faith sudah masuk ke televisi dan diundang ke talk show seperti Montel dan juga sudah diterbitkan dalam bentuk buku. Kalau ingin lihat bagaimana Faith berjalan, boleh ke you tube lalu search “faith the dog”

Faith juga punya websitenya sendiri: http://www.faiththedog.net/

Categories: General, Inspiration, Story Tags: ,

Aku pernah datang dan aku sangat patuh

May 7, 2007 Leave a comment

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut.

Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yuan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.

Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculanbintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”. Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini”. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.

Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut.Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudia berkata : “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,……. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula-mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.

Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.

Kesimpulan:
Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan dunia.

Walaupun hidup serba kekurangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.

* Taken from Moz5 mailing list *

Where is she from

July 25, 2005 Leave a comment

Beberapa waktu yang lalu ada salah seorang temanku bertanya, “Cha, aleivelli itu emang siapa?” ya kurang lebih begitu si pertanyaannya 😕 (lupa dah lama banget soale :D) Jawabannya ada di script yang aku tulis dibawah ini..
FYI, karena ini script aku buat jaman SMA dulu, jadi harap maklum ya kalau ada penggunaan kalimat dan bahasa yang kurang tepat..
Lunas sudah hutangku…
Selamat menikmati!! (kaya kotak makanan aja :D)


TOMORROW IS ANOTHER DAY

Once upon a time, in a flower city, Verona, lived two noble families. They are Mancinni’s and Vellino’s family. They have the same power of influence. But unfortunately, there is a conflict between them that lasted from generation to generation. Mancinni’s have a daughter named Anna and Vellino’s have a son named William. They have never met each other before, until one day in a brightful morning, when the flowers have started to blossom, they are met each other by a destiny.

SCENE I

(In the riverside, there’s a young man looking at the distance when a hat that blown by the the wind, falls in his side)
Giselle : “Anna !... You’re running so fast. Wait for me, Anna !”
(Anna run to the river and then she stop)
William : “Is this your hat, Miss ?”
Anna : “Mm... Yes ! Thank you.”
(Anna leaves William, but then William calls her)
William : “Wait !!”
(Anna turn away to William, at the same time Giselle’s coming)
Giselle : “Anna, look at my dress. It’s dirty ! Oh, William !”
William : “Hello, Giselle. Is she your friend ?”
Giselle : “Yes, she is. Exactly she’s my lovely friend. Well, Anna, this is William. William, this is Anna.”
(They are both shaking hands)
“Well, it’s time to have some tea. We have to go now. Come on, Anna !”
William : “Can we meet again, Anna ?’
Anna : “Yes, of course.”
(William continuously seeing Anna, and Anna entirely looking back to him)

After that day, they make a wonderful relationship. But it doesn’t last as beautiful as the blossom flowers in Verona that time. Anna’s father, Mr. Mancinni who really hates Vellino’s, forbid Anna to make a relationship with William. So they have to meet secretly.

SCENE II

(In the riverside, William is worried waiting for someone)
William : “Anna, I’ve been waiting for you. Where have you been ?”
Anna : “Oh I’m sorrry. My father won’t let me out. He’ll be mad if he knew I’m with you. You know he never likes you.”
William : “Yes, I know that. So what do we do now ? Will I see you again ?”
Anna : “I don’t know. Things are worse now. Maybe it’s better for us not to meet each other for a while.”
(Giselle suddenly come)
Giselle : “Anna, go home ! Quick ! Your father’s looking for you ! He’s mad !”
Anna : “I’m sorry, Will. I must go now.”
William : “Anna, wait !!”
Giselle : “Come on !”

SCENE III

Meanwhile at Mancinni’s residence, Mr. Roberto Mancinni, Anna’s father, is waiting for Anna and he looks so angry.

Mr. Mancinni : “I’m looking for you ! Where were you !”
Anna : “Nowhere.”
Mr. Mancinni : “Are you trying to fool me ?”
Anna : “I just want to see a friend.”
Mr. Mancinni : “Who is he ! William ? He’s not your friend. He’s just a stupid Vellino !”
Anna : “Stop it, father ! I don’t want to hear it anymore !”
Mr. Mancinni : “And you can not go out anymore from now ! Go to your room !!”
Anna : “All right. As you wish, father.”
(Anna goes to her room)
Mr. Mancinni : “William Vellino, I’ll teach you how to respect Mancinni’s.”

SCENE IV
In another place, William and his cousin, Alexis, who are going to go for a walk, meet Mrs. Vellino, William’s mother.

Mrs. Vellino : “Morning, dear.... Alexis.”
William/Alexis : “Morning, mother/Morning, Auntie.”
Mrs. Vellino : “So, Will, have you found your girl ?”
Alexis : “No, he can’t have Anna Mancinni. You know Will, She’s out of reach. Our family will never ever walk on the same road with them !”
William : “Stop it, Alexis ! I don’t like when you’re talking bad things about her. Do it again and I won’t forgive you !”
Alexis : “Will you ?”
Mrs. Vellino : “You’re right, William. Anna is so nice, so kind. By the way, where do you want to go ?”
William : “Well, we just want to go for a walk. Take some fresh air.”
Mrs. Vellino : “You may go. But remember, don’t make any trouble with Mancinni’s.”
Alexis : “All right ! Don’t you worry, we’ll be fine !”

SCENE V

Couple days later, Giselle is coming to visit Mrs. Vellino.

Giselle : “Morning, Mrs. Vellino.”
Mrs. Vellino : “Morning, Giselle. How’s everything ?”
Giselle : “Just.... fine..”
William : “Giselle, how’s Anna ?”
Giselle : “William,... well... Anna... she’s alright, before she met you !”
William : “What do you mean ?”
Giselle : “Don’t you understand ? She’s locked up in her house. She can’t go anywhere or talk with anyone. Now she only has me.”
William : “She has me ! She likes me and I like her !”
Giselle : “Please, no more lies. What do you want from her, exactly ?”
William : “I want nothing from her. I just want to be her friend. That’s all.”
Giselle : “Oh, yeah ? So what do you mean ‘I like her’ ?”
Mrs. Vellino : “William loves her ! She’s alone there, son. She needs you !”
William : “But her father hates me. I don’t know what I’ve got to do. I respected her decision, when she decided not to meet me for a while.”
Mrs. Vellino : “But that wasn’t her decision !”
Giselle : “No, it was hers !”
Mrs. Vellino : “She had to do it because her father forced her.”
William : “So, can I still meet her ?”
Giselle : “Of course not ! You just a misery for her. If you meet her now, you just made another trouble, for you... and her !”
Mrs. Vellino : “Giselle, is that what you call a friend ?”
Giselle : “I just can’t stand seeing her suffer.”
William : “I understand if Giselle angry with me.”
Giselle : “Yes, I’ll do anything to make her happy. To ease her pain away.”
William : “So will I ! I’ll do anything for her !”
(At a sudden, Mr. Roberto Mancinni, Anna’s father, come to Vellino’s house)
Mrs. Vellino : “Why are you here, Roberto ?!”
Mr. Mancinni : “I need to warn your son ! Listen carefully ! Don’t ever see her again !”
Giselle : “Excuse me. I got to go.”
Mr. Mancinni : “I’m not asking you to leave, Giselle !”
Giselle : “I’m sorry, there’s a lot work to do, Mr. Mancinni.”
William : “It’s not fair ! You prison your own daughter without asking her feelings ! You really have a heart to hurt her !”
Mr. Mancinni : “No... no... no... Look at yourself. Vellino’s deserve nothing from my family !”
Mrs. Vellino : “How dare you say that ! This conflict should’ve been stopped since my husband died. Our children have no relation with our problems !”
Mr. Mancinni : “Laura, for me, once Vellino are always Vellino !”
Mrs. Vellino : “Stop ! Stop it, Roberto ! I don’t want to see people fighting at my house. So you’d better go now !”
Mr. Mancinni : “All right, all right. I’m finished now. Remember what I said, William.”
(Mr. Mancinni leave the house)
Mrs. Vellino : “William, wait ! Where do you want to go ?”
William : “Nowhere, mother !”
Mrs. Vellino : “Remember, dear. Don’t make any trouble with Mancinni’s. I don’t want, what happened to your father happen to you !”
William : “All right, don’t worry. I have to go, mother.”
(William leave the house and chase Mr. Mancinni. Meanwhile in the house, Mrs. Vellino says...)
Mrs. Vellino : “I hope nothing will happen to you.”

In the garden.

William : “Mr. Mancinni, wait ! I want her ! I want to meet her !”
Mr. Mancinni : “Whatever you say, whatever you do, she doesn’t like you ! So don’t you dare come near her !”
William : “That’s a lie ! You know she likes me. That’s why you come here. You afraid she will run away with me !”
(William strangle Mr. Mancinni’s neck, and force him to bring outside his knife. Mr. Mancinni point it to William. Alexis come at a sudden)
Alexis : “Hey ! What are you doing with him ! Let him go !”
Mr. Mancinni : “Nothing ! I warn you for the last time. Stay away from her !”
Alexis : “Are you alright ? What was he doing here ?”
William : “He asked me to leave Anna.”
Alexis : “Do you want me to repay him ?”
William : “No, you don’t have to. Come on, let’s go home. But don’t tell this to my mother !”
Alexis : “All right !”

SCENE VI

At night, Alexis slip into Anna’s room.

Giselle : “Anna, you’d better take a rest. Don’t think about anything. You must recover I’ll get some fruits for you.”
Alexis : “Anna ! I want to talk to you !”
Anna : “What are you doing here ! And why do you look so angry with me !”
Alexis : “William almost die because of you !”
Anna : “What ! Is he alright ?”
Alexis : “No, if I didn’t come on the right time. Your father wanted to kill him !”
Anna : “No, it’s impossible ! My father won’t do that !”
Alexis : “Yes, of course he will ! As long as it’s all about Vellino’s ! So you must leave him and forget him !”
Anna : “No, I can’t ! I like him !”
Alexis : “No, you must do that !”
(Giselle come at a sudden)
Giselle : “Hey, what are you doing with Anna ! Stay away from her !”
Alexis : “I just want to tell her to...”
Giselle : “You’d better go now !”
Anna : “Yes, please Alexis. You should leave.”
Alexis : “All right, I’m leaving now ! Remember what I said ! Oh..yes.. I forget one thing. William doesn’t like you !”
Giselle : “Take the back door !”
(Anna cries)
“Oh, Anna. I don’t want to see you cry. Forget all she said ! She just want to make you sad. Trust me ! William is fine.”
Anna : “Yes I know that. Thank you, Giselle. You’re my best friend.”

SCENE VII

In the morning, at the riverside, Alexis is talking with William, before she go back to Rome.

Alexis : “So, how do you think about her ?”
William : “You’ve known, Al ! Mmm... I want to see her tonight. Would you come with me ?”
Alexis : “See her ?! What for ?! Are you missing her ?”
William : “Yes, I am. I really do. She’s everything to me.”
Alexis : “Don’t you afraid with her father, after what he had done to you ?”
William : “Come on, Alex ! I’ll do anything for her !”
Alexis : “And why she’s become so important for you than me ? You already have me !”
William : “You don’t understand ! I never felt so happy before. She’s my angel !”
Alexis : “OK ! I understand. She’s your pearl... your angel... and I’m only your cousin, a friend, now and forever.”
William : “I’m sorry, Alexis.”
Alexis : “That’s OK. By the way, I’m leaving Verona this afternoon.”
William : “Will you back to Rome ?”
Alexis : “Do I have another place ? I got to go now. Take care of yourself ! Oh, yes give her my appologize. Goodbye, Will. See you next time !”
William : “I hope a nice trip for you ! Appologize ?!.. What appologize ?!”

SCENE VIII

At night, there’s someone singing a beautiful song outside the window.

Giselle : “What are you doing here !”
Anna : “William !”
William : “Anna !”
(William climbs up the window)
Giselle : “Why are you here ?”
William : “See her !”
Anna : “Let him. I”m sure he won’t make troubels here. I’m sorry, William. You shouldn’t have come here. It’s too dangerous. My father will be...”
William : “Forget him ! Are you fine ?”
Giselle : “No, she’s not ! She’s getting worse everyday.”
Anna : “Giselle, take care outside. Just in case my father come.”
Anna : “William, I want to be free. Free as a bird , fly in a velvet sky and watch how beautiful my land. So no one can stop me !”
William : “Say nothing more. You’ll be alright. I’m here now !”
Giselle : “Will, it’s not enough only with words. The fact is, now Anna is locked up here. No one can help her !”
William : “How could you say that ! I’m trying hard to find the way out ! ... Anna, did Alexis do something bad to you ?”
Anna : “No,... She... didn’t.”
Giselle : “Someone is coming ! Will, You must leave, quick !”
(Mr. Mancinni comes home and see William in Anna’s room)
Mr.Mancinni : “Well, well, well... You still have the guts to come here. I told you ! You Should’t have come here ! It’s my house and no one can enter my house without permission !”
Anna : “Father ! Don’t say like that !”
Mrs.Vellino : “He didn’t do anything to Anna.”
William : “Mother, who told you I came here ?”
Mrs. Vellino : “Alexis, did. She told me everything.”
Mr. Mancinni : “I don’t ask you to come here !”
Mrs. Vellino : “Yes, I know. But I think I have to.”
Anna : “Father, stop treating me like a child ! I grew up ! I’m a girl now. I can choose whomever I want to make friend with !”
Mr. Mancinni : “No, you can’t ! I’m your father and I have the right to make a better life for you. You’re my only daughter !”
Mrs. Vellino : “Roberto, that’s not the way how father teaches his daughter !”
William : “She’s right, Mr. Mancinni !”
Anna : “Now, everyone support me !”
Mr. Mancinni : “Oh, yeah ? But not now. He must die with my own hand !”
(Mr. Mancinni take his sword and aim it to William)
Mrs. Vellino : “Don’t do that ! You can’t do that. Killing my son is not the way out. It’s only growing hates between Vellino’s and Mancinni’s. Think Anna how sad she’ll be, when she saw her father became a murderer !”
Mr. Mancinni : “I’m sure she’ll understand. I do this for her happyness. A Vellino’s won’t make her happy !”
Mrs. Vellino : “Are you sure ? Do you ever understand what she wants ? Things that can make her happy ?”
Mr.Mancinni : “Stop this nonsense !! William... prepare to meet your father !”
Anna : “ No, father..... No !!!”
(Mr. Mancinni cut his sword into William’s body. Then, William fell down to the floor)
Mrs. Vellino : “No... William... My son... No !!!”
Anna : “Will... William... Wake up, Will !!”
(Anna can’t control herself, she take the sword)
Giselle : “Anna, don’t touch it, Anna ! Anna, you scare me !!”
Mr. Mancinni : “Anna, put it down. Slowly...”
Anna : “William has died ! What can I do !”
Giselle : “Anna, you have me, and your father !”
Mr. Mancinni : “She’s right, Anna ! Please... put it down ! Now !”
Anna : “No !!!”
(They’re three snatching for the sword, then....)
Giselle : “Mr. Mancinni !!”
Anna : “No... father !!..... father !! I didn’t mean to do that !”
Mr. Mancinni : “I know, darling...”
Anna : “Father..... Why do you have to leave me. Why does everyone leave me. Will.... you said you’ll be here by my side. But, now you leave me....”
Mrs. Vellino : “Anna, calm down. We’re both lost our beloved. Hate only makes sadness and misery. Come on, Anna, let’s we barry William and your father, then we start a new life. Giselle, help Anna.”
Giselle : “Stop crying, Anna. You still have me. We’ll always be together, ‘cause you are still my friend.”

Mrs. Vellino is now living alone. Giselle and Anna live in one place to another place, to see a new world, that could heal any pain, together in time and the turning seasons.

THE END

Categories: General, Story Tags: , , ,